Rabu, 28 September 2011

PENGOLAHAN PASTA GAMBIR MENJADI GAMBIR KERING


Gambir bersama dengan karet, semen dan kayu lapis termasuk dalam sepuluh komoditas utama ekspor Sumatera Barat.  Untuk ekspor, gambir di-kirim melalui Medan, sedangkan untuk pemasar-an dalam negeri dikirim ke Jakarta (Julianery, 2001).Volume ekspor gambir Sumatera Barat tahun 2001 sebesar 45.000.000 Kg.  Negara tujuan ekspor gambir adalah Jepang, India dan Singapura (Badan Pusat Statistik, 2002).
Gambir dapat dipergunakan sebagai bahan baku dalam industri farmasi, industri kosmetik, industri batik, industri cat, industri penyamak kulit dan sebagai campuran pelengkap makan sirih (Departemen Perdagangan, 1993).  Standar Nasional Indonesia mempersyaratkan gambir dengan kadar catechin minimal 60%, kadar air maksimum 16%, kadar abu maksimum 5%, kadar bahan tak larut air maksimum 10% dan kadar bahan tak larut alkohol maksimum 16% (Nazir, 2000).
Pengolahan gambir dilakukan dengan mere-bus daun dan ranting, kemudian dilakukan pe-ngempaan bahan.  Getah yang diperoleh dari pe-ngempaan selanjutnya diendapkan dan ditiriskan sehingga berbentuk pasta.  Pasta tersebut dicetak dengan menggunakan cetakan bambu dan kemu-dian dikeringkan. Berdasarkan hasil survey diameter gambir kering berkisar antara 2,14 cm sampai 4,50 cm dan tinggi yang berkisar antara 1,84 cm sampai 4,22 cm 
Kelemahan gambir yang dicetak berbentuk silinder sebelum dikeringkan, antara lain bentuk dan ukuran tidak seragam dan jika dikemas pada suatu kotak maka akan terdapat ruang-ruang ko-song pada kemasan sehingga menyebabkan tidak efisiennya penggunaan kemasan.
Berdasarkan hal diatas maka pengolahan pas-ta gambir menjadi gambir kering cetak berbentuk “biskuit” merupakan salah satu alternatif untuk mengefisienkan kemasan, memberikan bentuk dan ukuran yang relatif seragam. Salah satu ben-tuk biskuit adalah berbentuk persegi empat.  Di India, gambir Indonesia ada yang mengalami pengolahan ulang sebelum dipasarkan menjadi bentuk pipih yang berukuran 5 cm x 5 cm x 4 mm (Linkenheil, 1998).
Pembentukan gambir kering berbentuk “biskuit” dapat dilakukan dengan cara pengempa-an untuk menurunkan kandungan air dan kemudi-an dilanjutkan dengan pengeringan. Dari penguji-an beberapa contoh gambir kering berbentuk silinder yang telah dilakukan diperoleh sebagian gambir ada yang keras dan juga terdapat gambir yang sangat rapuh sehingga mudah patah atau pecah.
Keras atau rapuhnya gambir dipengaruhi oleh kerapatan dari gambir cetakan tersebut.  Setelah dilakukan pengujian terhadap beberapa kerapatan gambir kering berbentuk silinder yang ada dipasaran, diperoleh kisaran kerapatan antara 0,642 g/cm3 sampai 1,005 g/cm3.  Sehubungan dengan perlu diketahui target kerapatan yang optimum sehingga tetap utuh dalam pengang-kutan namun tetap disukai konsumen.  Berdasar-kan hal diatas maka telah dilakukan penelitian yang berjudul  Studi Pengolahan Pasta Gambir Menjadi Gambir Kering Cetak Berbentuk “Biskuit” yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengolahan pasta gambir menjadi gambir kering cetak berbentuk “biskuit”.

BAHAN DAN METODE

Untuk penelitian ini digunakan pasta gambir dari Barung-barung Belantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Bahan-bahan yang dibutuhkan pada pengujian antara lain aquades, catechin standart, etil asetat, formaldehid  40% dan HCl pekat.
Pembentukan produk menggunakan alat kempa rancangan sendiri yang dilengkapi dengan cetakan berukuran 20 cm x 20 cm x 0,5 cm. Jumlah pasta gambir yang digunakan berdasarkan kepada target kerapatan dengan menggunakan volume cetakan yang sama. Pasta gambir kemu-dian dimasukkan kedalam cetakan yang bagian bawahnya dilengkapi dengan kain saring dan screen. Bagian penutup pasta digunakan plat besi yang diatasnya dilengkapi dengan dongkrak un-tuk menekan pasta gambir hingga mencapai ke-tebalan 0,5 cm. Bagian bawah cetakan dilengkapi dengan wadah penampung cairan hasil pengem-paan. Untuk mencapai target kerapatan diguna-kan penyangga besi diantara bidang kempa. 
Pengamatan terhadap cairan pengolahan  me-liputi ; volume cairan, jumlah total padatan dan bilangan stiasny. Lembaran pasta gambir hasil pengempaan dipotong dengan ukuran 5 cm x 5 cm dan dikeringkan dengan sinar matahari. Lama pengeringan dicatat sampai pasta gambir tersebut kering. Produk hasil pengeringan diamati nilai kerapuhan, kadar catechin, bilangan stiasny, ka-dar air, kekerasan dan penampakan (warna dan bentuk permukaan).
Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan tar-get kerapatan dengan 3 ulangan. Target kerapatan gambir keringnya yaitu 0,6/cm3(A) 0,7 g/cm3(B), 0,8 g/cm3(C), 0,9 g/cm3(D), 1,0 g/cm3(E) dan  1,1g/cm3(F).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Pasta Gambir

Hasil pengamatan terhadap pasta gambir yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.  Karakteristik Pasta Gambir

Parameter

Satuan
Nilai
Kadar Air
%
262,83
Bilangan Stiasny
%
84,32

Kadar Catechin

%
72,22

Berat bahan padat

g/100 g pasta
27,56

B.    Hasil Pengamatan terhadap Proses Pence-takan Pasta Gambir

1.                   Volume limbah
Volume cairan limbah berkisar antara 423 ml sampai 444 ml. Volume cairan limbah akan meningkat seiring dengan peningkatan target kerapatan gambir, yang berarti bahwa 31,7% sampai 57,3% dari pasta gambir terbuang pada saat pencetakan yang terdiri dari pada air dan padatan pasta gambir.

2.             Total padatan limbah
Jumlah padatan terbuang melalui cairan limbah berkisar antara 39,83 g sampai 10,91 g. Ini bearti bahwa pada saat pencetakan pasta gambir pada beberapa target kerapatan maka padatan akan terbuang sebesar 8,14% sampai 8,97% dari volume cairan limbah atau 2,45% sampai 5,13% dari pasta gambir.

3.             Bilangan Stiasny
Bilangan Stiasny menunjukkan jumlah kom-ponen dari gambir yang dapat bereaksi dengan formaldehid yang sering juga disebut polyflavo-noid. Pada saat pencetakan jumlah polyflavonoid yang terbuang berkisar antara 3,39 g sampai 21,79g.  Ini berarti bahwa pada saat  pencetakan pasta gambir pada beberapa target kerapatan, maka polyflavonoid yang terbuang sebesar 2,45% sampai 5,13% dari volume cairan limbah atau 0,80% sampai 2,81% dari berat pasta gambir yang digunakan. Untuk jelasnya komponen ten-tang bahan dasar dan limbah dapat dilihat pada Tabel 3 yang dinyatakan dalam persentase. Disamping itu juga ditampilkan histogram limbah terbuang.






C.  Lama Pengeringan

Lama pengeringan untuk semua produk ada-lah 9 jam. Hal ini sudah lebih singkat dari lama pengeringan yang dilakukan petani terhadap pas-ta gambir tanpa pengempaan.  Petani biasanya mengeringkan gambir selama 6 sampai 8 hari. Semakin luas pemukaan bahan maka waktu pe-ngeringan akan semakin singkat (Taib, et al, 1998).  Pasta gambir yang telah dicetak memiliki ukuran yang tipis dan permukaannya lebih luas sehingga waktu pengeringan lebih singkat.

D.  Hasil Pengamatan terhadap Produk

Pengolahan pasta gambir menjadi gambir kering berbentuk “biskuit” menghasilkan produk dengan karakteristik yang dapat dilihat pada Tabel 3. Nilai rata-rata catechin produk meme-nuhi standar mutu gambir SNI 01-3391-1994 (Revisi 1999), bilangan stiasny memenuhi syarat untuk dijadikan perekat, kecuali kadar air dan kerapuhan. Penampakan produk memenuhi mutu gambir super.
Setelah dilakukan analisis sidik ragam ter-nyata target kerapatan berpengaruh terhadap ka-dar catechin, bilangan stiasny dan penampakan produk. Demikian juga bilangan stiasny, total padatan dan volume limbah yang dihasilkan.

1.    Kerapuhan gambir kering berbentuk “biskuit”
Rata-nilai kerapuhan produk hasil penelitiann ini berkisar antara 28,75% sampai 52,55%. Seluruhnya termasuk rapuh karena untuk produk kerupuk disyaratkan maksimum 10% (SNI 01-4031-1996). 


2.                   Kekerasan
Kekerasan produk berkisar antara 5,57 Kg/cm2 sampai 11,73 Kg/cm2, berarti semuanya termasuk keras kecuali pada gambir target kerapatan 0,6 g/cm3 dan 0,8  g/cm3.

3.             Penampakan
Penampakan produk meliputi warna dan ben-tuk permukaan. Warna produk dari pasta gambir yang dicetak dengan target kerapatan 0,6;0,7 dan 0,8 g/cm3 adalah bewarna coklat sedangkan pada produk dengan target kerapatan 0,9 g/cm3 sampai 1,1 g/cm3 adalah kuning kecoklatan. Bentuk produk gambir cetakan yang rata termasuk mutu gambir super menurut standar mutu pada peda-gang perantara dan eksportir, sedangkan warna kuning kecoklatan merupakan warna untuk gam-bir mutu I (SNI 01-3391-1994 (Revisi 1999).

4.             Kadar catechin
Rata-rata kadar catechin produk berkisar an-tara 81,55% sampai 87,36% yang bearti bahwa  semua produk memenuhi syarat standar gambir SNI 01-3391-1994 (Revisi 1999) untuk mutu I

5.             Bilangan stiasny
Bilangan stiasny untuk semua produk berki-sar antara 88,48-94,19%. Semua nilai tersebut memenuhi untuk digunakan sebagai bahan pere-kat kayu karena lebih tinggi dari bilangan stiasny tannin dari kulit kayu Acacia mearnsii.

6.             Kadar Air 
Kadar air pada peneltian ini diuji berdasarkan berat kering (dry basis).  Kadar air produk berkisar antara 16,39% sampai 18,07%. Sedangkan menurut  SNI 01-3391-1994 (Revisi 1999) maksimal 16%, maka produk ini tidak memenuhi standar mutu.

 KESIMPULAN DAN SARAN

Dari penelitian yang telah dilakukan diper-oleh kesimpulan yaitu pengolahan pasta gambir menjadi gambir kering berbentuk “biskuit” de-ngan target kerapatan 0,6 g/cm3 sampai 1,1 g/cm3 dari sifat kerapuhan tidak diperoleh produk yang memenuhi syarat bila mengacu kepada kerapuhan kerupuk maksimal dipersyaratkan 10% sedang-kan hasil penelitian ini peroleh nilai kerapuhan produk gambir antara 25,75% sampai 52,55%. Namun dari segi warna, bentuk permukaan, kadar catechin, bilangan stiasny maka target kerapatan 0,9 g/cm3 merupakan yang optimal. Lama waktu yang digunakan untuk mengeringkan pasta gam-bir yang telah dicetak adalah 9 (sembilan) jam.  Peningkatan target kerapatan pasta gambir yang dicetak akan meningkatkan volume, total padatan dan bilangan stiasny dari cairan limbah peng-olahan seiring dengan itu juga meningkatkan kadar catechin dan bilangan stiasny dari produk
Dari penelitian yang telah dilakukan maka disa-ran untuk membuat gambir kering cetak berben-tuk “biskuit” pada target kerapatan 0,9 g/cm3 dengan memperlama waktu pengeringan sehing-ga kadar air maksimal 16% dan melakukan pene-litian untuk mendapatkan gambir kering berben-tuk “biskuit” dengan nilai kerapuhan maksimal 10%.


DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, A. 1991.  Manfaat Tanaman Gambir. Makalah Penataran Petani dan Pedagang Pengumpul Gambir di Kecamatan Pangkalan Kab. 50 Kota 29-30  November 1991. FMIPA  Unand. Padang
Badan Pusat Statistik, 2002 . Statistik Perdagangan Luar Negeri Sumatera Barat Ekspor-Impor 2002. No. Publikasi . BPS 135400301. Padang. Sumatera Barat
Departemen Perdagangan Sumbar. 1993. Pedoman Peningkatan Mutu Gambir . Kanwil Departemen Perdagangan Sumatera Barat
Julianery,BE.  2001.  Kabupaten Lima Puluh Kota. Harian Umum Kompas edisi Jum’at 4 Mei 2001.Jakarta
Linkenheil, K. 1998.  The Gambir Processing in West Sumatera. ATIAMI dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Barat.  Padang
Nazir,N.  2000.  Gambir; Budidaya, Pengolahan dan Prospek Diversifikasinya. Yayasan Hutanku. Sumatera Barat
Standar Nasional Indonesia, 1996. Syarat Mutu Kerupuk Kentang SNI 01- 4031 – 1996.
Taib et al.  1998.  Operasi Pengeringan pada Pengolahan Bahan Hasil Pertanian.  Mediyatama Sarana Perkasa.  Jakarta
Yazaki, et al. 1993. Analysis of Black Wattle (Acacia mearnsii) Tannins Relationships Among the Hide Powder, the Stiasny and the Ultra-Violet (UV) Methods. Holzforschurg. Vol. 47 No.1 New York





KOMODITAS ANDALAN 50 KOTA

MUNGKA 14 MEI .Gambir merupakan komoditas tradisional Indonesia yang telah diusahakan semenjak sebelum Perang Dunia I terutama di luar jawa seperti Sumatera barat, Riau, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan Barat dan Maluku. Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama (Uncaria gambir Roxb.).
Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan pada menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih.
Di Indonesia, 80 % gambir berasal dari Sumatera Barat dan sentra utama gambir 80 % berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Dari data yang ada pada Dinas Perkebunan Lima Puluh Kota pada tahun 2010 luas pertanaman gambir 14.682,50 ha dengan produksi 14.601 ton pertahun.
Kecamatan Kapur IX merupakan kecamatan penghasil gambir terluas di Kabupaten Limapuluh Kota, yakni seluas 5.698 ha dengan total produksi 4.986 ton per tahun atau 34 % dari total produksi Kabupaten Limapuluh Kota kemudian diikuti oleh Kecamatan Pangkalan Koto Baru dengan luas pertanaman 3,740.00 ha dengan total produksi 4.378 ton per tahun.
Melalui siaran pers dari Kabag Humas dan Protokoler Kabupaten Lima Puluh Kota Saiful.SP dihadapan wartawan kemaren, mengatakan bahwa dengan satu komoditi gambir saja di Lima Puluh Kota beredar uang dalam satu tahun mencapai Rp.365 milyar lebih setengah dari jumlah APBD Lima Puluh Kota, atau artinya beredar uang sebesar Rp.1 milyar setiap harinya untuk satu komoditi gambir.
“ kita dapat hitung dengan produksi gambir Lima Puluh Kota pada tahun 2010 dengan produksi 14.601 ton dengan harga pada saat sekarang Rp.25.000 per kg atau setara dengan nilai uang sebesar Rp.365.025.000.000,- “ ujar Saiful.
Ditambahkannya sebagai contoh pada Kecamatan Kapur IX di hasilkan gambir ± 100 ton perminggu dengan harga berkisar Rp.25.000 sd.Rp.30.000,- artinya uang beredar di Kecamatan Kapur IX Rp. 2,5 milyar sampai dengan 3 milyar setiap minggunya “ ujar Saiful.
Kegunaan Gambir
Secara terpisah Bupati Lima Puluh Kota dr.Alis Marajo Dt.Sori Marajo, mengatakan “ pada saat sekarang harga gambir ditentukan oleh pedagang dan ekportir dan petani kita berada pada posisi nilai tawar yang rendah, dan dari informasi yang kita peroleh harga gambir di luar negeri 5 sampai 10 kali lipat dibandingkan dengan harga gambir di Lima Puluh Kota. Ujar alis Marajo.
“ kedepan melalui kerjasama dengan Perguruan Tinggi bagaimana kita menunjukkan kepada petani apa manfaat dari gambir ini, petani hanya mengetahui bagaimana memproses daun gambir menjadi getah gambir dan belum memahami apa manfaat dari gambir tersebut “ ujar Alis Marajo.
Ditambahkan oleh Alis Marajo yang S2nya Biokimia tersebut, bahwa gambir mengandung dua senyawa utama catechin dan asam catechu tannat yang digunakan untuk makan sirih.
Diketahui, gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan); penyamak kulit; dan bahan pewarna tekstil untuk industri batik “ tukuk Alis Marajo.
Agro teknopark
Ketua PD.Gonjong Limo Amrinaldi alias “Ujang” menyampaikan, bahwa untuk menjawab tantangan kedepan dimana diharapkan Lima Puluh Kota dapat meningkatkan nilai tambah terhadap komoditi gambir telah dikembangkan teknologi pengolahan gambir dalam bentuk “cathecin”. Ujar Amrinaldi
Pabrik pengolahan gambir berlokasi di Nagari Sungai Antuan Kecamatan mungka, merupakan bantuan dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang tertuang dalam Kesepakatan bersama antar Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Gubernur Sumatera Barat tentang pengembangan dan Implementasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk peningkatan kemajuan dan daya saing Provinsi Sumatera Barat, 03/M/SKB/III/2007 dan Nomor 070-73-2007 tanggal 27 Maret 2007.
Dan untuk tingkat Kabupaten dituangkan dalam bentuk kerjasama antara Deputi Bidang Pengembangan Sistem Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional Kementerian Negara Risaet dan teknologi dengan pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota dengan Provinsi Sumatera Barat tentang Pengembangan Agrotechnopark di Kabupatren Lima Puluh Kota dengan Provinsi Sumatera Barat, Nomor;014.1/M/PK/III/2009 dan Nomor: 030/4/III/Bappeda-LK/2009 tanggal 4 Maret 2009 , ujar Amrinaldi.
Ditambahkan Amrinaldi “ diharapkan kedepan Lima Puluh Kota dapat mengekpor gambir dalam bentuk bubuk atau biscuit sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani gambir, sekarang ini telah mulai berproduksi yang menandakan telah berfungsinya peralatan dan mesin bantuan Kementerian Riset dan teknologi